proposal skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang Masalah

         Dalam menjalankan sebuah usaha, pasti pengusaha menginginkan agar barang atau jasa yang ia tawarkan dapat mendapatkan respon yang positif dari konsumen, sehingga tingkat penjualan menjadi tinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat penjualan suatu usaha, salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah faktor lokasi.

         Agar usaha yang dijalankan dapat sukses dan berkembang secara efektif, maka pemilihan lokasi usaha yang strategis sangat diperlukan. Adanya perbedaan sukses organisasi-organisasi dan perbedaan kekuatan atau kelemahan organisasi, sering karena fakor lokasi. Dalam situasi persaingan, factor lokasi dapat menjadi factor-faktor yang keritis dan membuatnya menjadi sangat penting (T. Hani Handoko, 2000 : 65).

         Pemilihan lokasi suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko dan keuntungan perusahaan tersebut secara keseluruhan, mengingat lokasi sangat mempengaruhi biaya tetap maupun biaya variabel, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang. Sebagai contoh, biaya transportasi saja bisa mencapai 25% harga jual produk (tergantung kepada produk dan tipe produksi atau jasa yang diberikan). Hal ini berarti bahwa seperempat total pendapatan perusahaan mungkin dibutuhkan hanya untuk menutup biaya pengangkutan bahan mentah yang masuk dan produk jasa yang keluar dari perusahaan (Heizer dan Render, 2004 : 410).

         Dalam memilih lokasi usaha sebaiknya mencari lokasi yang dapat memberikan lebih banyak efek-efek positif, dan menghindari efek-efek yang negative. Hal tersebut dimaksudkan agar dapat memilih lokasi yang tepat dan strategis. Karena jika sudah menentukan lokasi, maka akan banyak biaya yang timbul, dan akan sulit untuk di kurangi.

Keputusan lokasi sering bergantung kepada tipe bisnis. Untuk keputusan lokasi industri, strategi yang digunakan biasanya adalah strategi untuk meminimalkan biaya, sedangkan untuk bisnis eceran dan jasa profesional, strategi yang digunakan terfokus pada memaksimalkan pendapatan. Walaupun demikian, strategi lokasi pemilihan gudang, dapat ditentukan oleh kombinasi antara biaya dan kecepatan pengiriman. Secara umum, tujuan strategi lokasi adalah untuk memaksimalkan keuntungan lokasi bagi perusahaan.

Tanpa perencanaan lokasi yang tepat, perusahaan dapat melakukan kesalahan- kesalahandalam pemilihan lokasi. Suatu perusahaan mungkin memilih lokasi tanpa mempertimbangkan ketersediaan tenaga kerja di daerah tersebut, dan beberapa bulan setelahnya perusahaan menghadapi masalah tenaga kerja. Perusahaan lain memutuskan membeli tanah untuk lokasi pabrik dengan harga yang murah, tetapi kemudian disadari bahwa kondisi tanah di lokasi tersebut jelek sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra dalam membangun fondasinya. Kesalahan-kesalahan seperti yang disebutkan diatas dapat mengakibatkan perusahaan beroperasi dengan tidak efisien dan efektif.

Faktor-faktor penting yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi masing-masing perusahaan berbeda. Bagi suatu perusahaan mungkin faktor terpenting adalah dekat dengan pasar. Tetapi mungkin yang lebih penting bagi perusahaan lain adalah dekat dengan sumber-sumber penyediaan bahan dan komponen. Beberapa perusahaan lainnya mungkin mempertimbangkan faktor lokasi dimana tersedia tenaga kerja yang mencukupi kebutuhan perusahaan, ataupun biaya transportasi yang sangat tinggi bila produk berat dan besar.

Jadi, alasan utama terjadinya perbedaan dalam pemilihan lokasi adalah adanya perbedaan kebutuhan masing-masing perusahaan. Lokasi yang baik adalah persoalan individual. Hal ini sering disebut pendekatan “situasional” atau “contingency” untuk pembuatan keputusan – bila dinyatakan secara sederhana, “semuanya bergantung” (T.Hani Handoko, 2000 : 67).

Di dalam bukunya, Hani Handoko (2000) menyebutkan faktor-faktor yang secara umum perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi perusahaan, adalah sebagai berikut:

  1. Lingkungan masyarakat, kesediaan masyarakat suatu daerah menerima segala konsekuensi, baik konsekuensi positif maupun negatif didirikannya suatu pabrik didaerah tersebut merupakan suatu syarat penting. Perusahaan perlu memperhatikan nilai-nilai lingkungan dan ekologi dimana perusahaan akan berlokasi, karena pabrik-pabrik sering memproduksi limbah dalam berbagai bentuk air, udara, atau limbah zat padat yang telah tercemar, dan sering menimbulkan suara bising. Di lain pihak, masyarakat membutuhkan industri atau perusahan karena menyediakan lapangan pekerjaan dan uang yang dibawa industri ke masyarakat. Lingkungan masyarakat yang menyenangkan bagi kehidupankaryawan dan eksekutif juga memungkinkan mereka melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Tersedianya fasilitas sekolah, rekreasi, kegiatankegiatan budaya dan olahraga adalah bagian penting dari keputusan ini.
  2. Kedekatan dengan pasar. Dekat dengan pasar akan membuat perusahaan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para langganan, dan sering mengurangi biaya distribusi. Perlu dipertimbangkan juga apakah pasar perusahaan tersebut luas ataukah hanya melayani sebagian kecil masyarakat, produk mudah rusak atau tidak, berat produk, dan proporsi biaya distribusi barang jadi pada total biaya. Perusahaan besar dengan jangkauan pasar yang luas, dapat mendirikan pabrik-pabriknya di banyak tempat untuk mendekati pasar.
  3. Tenaga kerja. Di manapun lokasi perusahaan, harus mempunyai tenaga kerja, karena itu cukup tersedianya tenaga kerja merupakan hal yang mendasar. Bagi banyak perusahaan sekarang kebiasaan dan sikap calon pekerja suatu daerah lebih penting dari ketrampilan dan pendidikan, karena jarang perusahaan yang dapat menemukan tenaga kerja baru yang telah siap pakai untuk pekerjaan yang sangat bervariasi dan tingkat spesialisasi yang sangat tinggi, sehingga perusahaan harus menyelenggarakan program latihan khusus bagi tenaga kerja baru. Orang – orang dari suatu daerah dapat menjadi tenaga kerja yang lebih baik dibanding dari daerah lain, seperti tercermin pada tingkat absensi yang berbeda dan semangat kerja mereka. Disamping itu, penarikan tenaga kerja, kuantitas dan jarak, tingkat upah yang berlaku, serta persaingan

antar perusahaan dalam memperebutkan tenaga kerja yang berkualitastinggi, perlu diperhatikan perusahaan.

  1. Kedekatan dengan bahan mentah dan supplier. Apabila bahan mentah berat dan susut cukup besar dalam proses produksi maka perusahaan lebih baik berlokasi dekat dengan bahan mentah, misal pabrik semen, kayu, kertas, dan baja. Tetapi bila produk jadi lebih berat, besar, dan bernilai rendah maka lokasi dipilih sebaliknya. Begitu juga bila bahan mentah lekas rusak, seperti perusahaan buah-buahan dalam kaleng, lebih baik dekat dengan bahan mentah. Lebih dekat dengan bahan mentah dan para penyedia (supplier) memungkinkan suatu perusahaan mendapatkan pelayanan supplier yang lebih baik dan menghemat biaya pengadaan bahan.
  2. Fasilitas dan biaya transportasi. Tersedianya fasilitas transportasi baik lewat darat, udara, dan air akan melancarkan pengadaan faktor-faktor produksi dan penyaluran produk perusahaan. Pentingnya pertimbangan biaya transportasi tergantung “sumbangannya” terhadap total biaya, contoh untuk perusahaan komputer yang biaya transportasinya hanya sekitar 1 atau 2% dari total biaya, tidak jadi masalah di manapun lokasi perusahaan berada dibanding bagi perusahaan semen. Untuk banyak perusahaan perbedaan biaya transportasi tidak sepenting perbedaan upah tenaga kerja. Tetapi, bagaimanapun juga, biaya transportasi tidak dapat dihilangkan di manapun perusahaan berlokasi, karena produk perusahaan harus disalurkan dari produsen bahan mentah ke pemakai terakhir ; jadi, asilitas seharusnya berlokasi di antara sumber bahan mentah dan pasar yang meminimumkan biaya transportasi. Dekat dengan bahan mentah akan mengurangi biaya pengangkutan bahan mentah, tetapi biaya pengangkutan pengiriman produk jadi meningkat. Sebaliknya, lokasi dekat pasar akan menghemat biaya pengangkutan produk jadi tetapi menaikkan biaya pengangkutan bahan mentah.
  3. Sumber daya-sumber daya (alam) lainnya. Perusahaan-perusahaan seperti pabrik kertas, baja, karet, kulit, gula, tenun, pemrosesan makanan, alumunium dan sebagainya sangat memerlukan air dalam kuantitas yang besar. Selain itu hampir setiap industri memerlukan baik tenaga yang dibangkitkan dari aliran listrik, diesel, air, angin, dan lain-lain. Oleh sebab itu perlu diperhatikan tersedianya sumber daya-sumber daya (alam) dengan murah dan mencukupi. Selain faktor-faktor tersebut di atas, berbagai faktor lainnya berikut ini perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi : harga tanah, dominasi masyarakat, peraturan-peraturan tenaga kerja (labor laws) dan relokasi, kedekatan dengan pabrikpabrik dan gudang-gudang lain perusahaan maupun para pesaing, tingkat pajak, kebutuhan untuk ekspansi, cuaca atau iklim, keamanan, serta konsekuensi pelaksanaan peraturan tentang lingkungan hidup.

Penelitian mengenai pemilihan lokasi lebih sering dilakukan untuk pemiliha lokasi pabrik, gudang, dan bisnis ritel. Namun pemilihan lokasi usaha tidak hanya dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Usaha jasa berskala mikro-kecil pun juga perlu memilih lokasi usaha yang strategis agar dapat terus berjalan.

Ada banyak faktor yang menentukan kesuksesan suatu usaha. Salah satu faktor tersebut adalah ketepatan pemilihan lokasi. Ketepatan pemilihan lokasi merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh seorang pengusaha sebelum membuka usahanya. Hal ini terjadi karena pemilihan lokasi yang tepat seringkali menentukan kesuksesan suatu usaha. Hal ini juga berlaku untuk usaha jasa karena usaha jasa diharuskan untuk memelihara hubungan yang dekat dengan pelanggan. Usaha-usaha yang bergerak dibidang jasa harus lebih mendekatkan diri dengan semua pelanggan mereka sehingga mereka bisa memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan peluang besar bagi pengusaha untuk membuka usaha. Dengan bayaknya mahasiswa yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan pasar yang sangat potensial untuk dijadikan lahan bisnis. Hal inilah yang menyebabkan usaha kecil menjamur di kawasan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dewasa ini, sektor jasa telah mengalami peningkatan yang dramatis dibanding dekade sebelumnya. Dari sekian banyak jenis jasa yang berkembang diantaranya adalah asuransi, telekomunikasi, hiburan televisi, pendidikan, binatu, reparasi, dan jasa finansial. Tidak terkecuali usaha jasa berskala mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah. Banyak usaha jasa baru atau pun usaha jasa lama yang telah dilengkapi dengan fasilitas modern bermunculan. Usaha-usaha jasa tersebut adalah usaha fotocopy, percetakan/sablon, internet cafe baik yang dilengkapi dengan hot spot area maupun tidakl, laundry, counter, dan salon. Meskipun merupakan usaha jasa berskala mikro-kecil, memiliki lokasi usaha yang strategis merupakan suatu kebutuhan pokok bagi setiap usaha tersebut dan perlu dipertimbangkan oleh pemilik usaha.

Faktor-faktor pemilihan lokasi perlu dipertimbangkan oleh pemilik usah dalam menentukan lokasi usahanya, karena lokasi usaha tersebut dapat dijadika sebagai salah satu strategis bisnis. Memilih lokasi usaha yang dekat dengan targe pasar merupakan salah satu strategi bisnis selain itu juga memudahkan konsumen dalam mengkonsumsi jasa yang diberikan. Selain kedekatan dengan target pasarnya ketersediaan infrastruktur yang memadai juga perlu dipertimbangkan dala pemilihan lokasi usaha.

Bagi usaha fotocopy, rental komputer, dan internet cafe, ketersediaan listrik merupakan hal pokok bagi jalannya kegiatan bisnis, karena ketika listrik padam maka otomatis kegiatan bisnis usaha-usaha tersebut terhenti Ketersediaan air menjadi kebutuhan pokok bagi usaha laundry dan salon, juga ketersediaan listrik menjadi hal penting dalam menunjang kegiatan bisnis. Faktor pemilihan lokasi usaha tidak hanya didasarkan pada faktor kedekatan dengan target pasar dan ketersediaan infrastruktur terdapat faktor-faktor lainnya yang menjadi pertimbangan pemilik usaha jasa berskala mikro-kecil yang berada disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam memilih lokasi usahanya yang pada akhirnya dapat menghantarkan usaha tersebut pada kesuksesan usaha.

Latar belakang seperti yang telah disebutkan di atas menjadi dasar dari penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti dengan judul ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN LOKASI TERHADAP TINGKAT PENJUALAN PADA USAHA JASA MIKRO-KECIL (Studi Kasus: Sekitar Kampus Uin Syarif Hidayatullah Jakarta)”

 


 

1.2.            Perumusan Masalah

1.2       Perumusan Masalah

                        Berdasarkan dengan judul penelitian penulis yaitu ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN LOKASI TERHADAP TINGKAT PENJUALAN PADA USAHA JASA MIKRO-KECIL (Studi Kasus: Sekitar Kampus Uin Syarif Hidayatullah Jakarta)” maka dapat dirumuskan masalah :

  1. Apa pengaruh faktor biaya lokasi kesuksesan usaha?
  2. Apa pengaruh faktor kedekatan dengan lingkungan bisnis terhadap kesuksesan usaha?
  3. Apa pengaruh faktor kedekatan dengan infrastruktur terhadap kesuksesan usaha?
    1. 1.                  Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk menganalisih pengaruh biaya lokasi terhadap kesuksesan usaha.
  2. Untuk menganalisis pengaruh kedekatan dengan lingkungan bisnis terhadap kesuksesan usaha.
  3. Untuk menganalisis pengaruh kedekatan dengan infrastruktur terhadap kesuksesan usaha.

 

 


 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1.       Landasan Teori

2.1.1.      Pengertian Lokasi

            Lokasi adalah tempat untuk setiap bisnis dan merupakan suatu tugas penting bagi pemasar, karena keputusan yang salah dapat mengakibatkan kegagalan sebelum bisnis dimulai. Memilih lokasi berdagang merupakan keputusan penting pada bisnis yang harus membujuk pelanggan untuk datang ke tempat bisnis dan memenuhi kebutuhannya.

               Menurut Lupiyoadi dalam Yuliani (2005:13) mendefinisikan lokasi adalah tempat dimana perusahaan harus bermarkas melakukan operasi. Dalam hal ini ada tiga jenis yang mempengaruhi lokasi, yaitu:

  1. Konsumen mendatangi pemberi jasa (perusahaan)

Apabila keadaanya seperti ini maka lokasi menjadi sangat penting. Perusahaan sebaiknya memilih tempat dekat dengan konsumen sehingga mudah dijangkau, dengan kata lain harus strategis;

  1. Pemberi jasa mendatangi komsumen

Dalam hal ini lokasi tidak terlalu penting, tetapi yang harus diperhatikan adalah penyampaian jasa harus tetap berkualitas.

  1. Pemberi jasa dan konsumen tidak bertemu langsung

Berarti service provider dan konsumen berinteraksi melalui sarana tertentu seperti telepon,komputer, dan surat.

      Lokasi usaha adalah pemacu biaya yang begitu signifikan, lokasi usaha sepenuhnya memiliki kekuatan untuk membuat atau menghancurkan strategi bisnis sebuah usaha. Disaat pemilik usaha telah memutuskan lokasi usahanya dan beroperasi di suatu lokasi tertentu, banyak biaya yang akan tetap dan sulit untuk dikurangi. Pemilihan lokasi usaha mempertimbangkan antara strategi pemasaran jasa dan prefensi pemilik.

      Von Thunnen (1783-1850) mengembangkan teori lokasi pada awal abad 19. Berdasarkan pengamatan didaerah tempat tinggalnya, berbagai komoditas pertanian diusahakan menurut pola tertentu. Dengan memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan pasar, pola tersebut memasukan variable keawetan,berat, dan harga dari berbagai komoditas pertanian.

      Asumsi dari Teori Von Thunnen adalah sebagai berikut :

1)      Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri dari daerah perkotaan dengan daerah pedalamannya yang merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok komoditas pertanian.

2)      Daerah perkotaan itu merupakan satu-satunya daerah penjual kelebihan produksi daerah pedalaman dan tidak menerima penjualan hasil pertanian dari daerah lain.

3)      Daerah pedalaman tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah lain kecuali kedaerah perkotaan tersebut.

4)      Daerah pedalaman merupakan daerah homogeny dan cocok untuk tanaman dan perternakan dataran menengah

5)      Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum dan mampu untuk menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang terdapat didaerah perkotaan.

6)      Angkutan yang ada hanya angkutan darat berupa gerobak yang ditarik kuda.

7)      Biaya angkut ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. Petani menjul hasil dalam bentuk segar.

               Dengan asumsi tersebut maka daerah lokasi berbagai jenis pertanian akan berkembang dalam bentuk lingkaran tidak beraturan yang mengelilingi daerah pertanian, seperti tampak pada gambar 2.1

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Teori Lokasi Von Thunnen

               Kedekatan dengan pasar memungkinkan sebuah organisasi memberikan pelayanan yang lebih baik kepda pelanggan, dan akan menghemat biaya pengiriman. Dari kedua keuntungan tersebut, memmberikan layanan yang lebih baik biasanya adalah lebih penting. Usaha-usaha yang bergerak dibidang jasa harus lebih mendekatkan diri dengan semua pelanggan mereka sehingga mereka akan lebih dekat dengan pasar mereka.

Didalam bukunya Harding (Harding, 1976 : 67)  menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi, yaitu :

  • Lingkungan Masyarakat
  • Sumber-sumber Alam
  • Tenaga kerja
  • Pasar
  • Transportasi
  • Pembagkit tenaga
  • Tanah untuk ekspansi

Lingkungan masyarakat merupakan suatu syarat untuk dapat atau tidaknya suatu usaha didirikan didaerah tersebut, karena masyarakat didaerah tersebut harus bisa menerima segala konsekuensi baik kosenkuensi positif ataupun kosenkuensi negative. Besarnya populasi, kepadatan penduduk, dan karakteristik masyarakat menjadi faktor dalam mempertimbangkan suatu area perdagangan. Basis ekonomi yang ada seperti industri daerah setempat, potensi pertumbuhan, fluktuasi karena faktor musiman, dan fasilitas keuangan didaerah sekitar juga harus diperhatikan oleh pengusaha dalam memilih lokasi usahannya

Suatu perusahaan juga senang berdekatan dengan pesaingnya. Tren ini disebut juga sebagai clustering, sering terjadi jika sumber daya utama ditemukan di wilayah tersebut. Sumber daya ini meliputi sumber daya alam, informasi, modal proyek, dan juga bakat. Menurut Alcacer (2004) dengan lokasi yang berdekatan dengan pesaing usaha, perusahaan dapat melakukan strategi kompetisi total baik delam kepemimpinan harga atau jasa lain yang diberikan. Seorang pengusaha harus mengenali jumlah dan ukuran usaha lain serta situasi persaingan yang ada didaerah tersebut.

Kedekatan dengan pasar memungkinkan sebuah organisasi memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan, dan sering menghemat biaya pengiriman. Dari kedua keuntungan tersebut, memberikan layanan yang lebih baik biasanya adalah lebih penting. Usaha-usaha yang bergerak dibidang jasa harus lebih mendekatkan diri dengan semua pelanggan mereka sehingga mereka bisa dekat dengan pasar mereka.

Biaya tanah dan pajak lokal kadang-kadang merupakan salah satu faktor pemilihan lokasi, meskipun pada umumnya kedua hal tersebut relatif tidak penting. Biaya tempat, termasuk pajak, mungkin hanya 3% dan biasanya kurang dari 10% dari total biaya fasilitas. Pada kenyataannya, kadang-kadang seperti faktor kecil bahwa masyarakat industri menginginkan untuk menyumbangkan tanah (atau menawarkannya dengan harga spesial) untuk suatu organisasi yang mau mencari di daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya suatu usaha didaerah tersebut akan membawa keuntungan bagi masyarakat disekitarnya. Suatu usaha apabila terletak jauh daripada suppliernya maka akan semakin tinggi biaya transportasi dan distribusi barang.

Harga jual barang akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya bahan dasar dan bahan-bahan lainnya yang diperlukan dalam proses produksi. Harga daripada bahan-bahan dasar dan bahanbahan pembantu dipengaruhi pula oleh biaya yang harus ditanggung oleh supplier untuk mendistribusikan barang tersebut. Pemasok mempunyai pengaruh pada usaha dalam hal kecepatan penyediaan, kualitas produk yang terjaga, biaya pengiriman, dan lain-lain sehingga kedekatan dengan sumber pemasok perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi usaha.

Tersedianya tenaga kerja baik tenaga kerja terdidik ataupun tenaga kerja terlatih yang cukup banyak merupakan faktor yang terpenting. Di dalam penentuan lokasi usaha harus dipertimbangkan besarnya kebutuhan tenaga kerja baik tenaga kerja skilled, trained dan unskilled. Untuk memenuhi kebutuhan perusahaan maka harus dipertimbangkan kemungkinan tersedianya tenaga-tenaga tersebut. Hampir setiap usaha memerlukan tenaga listrik yang sering di dalam hal ini mempengaruhi pula letak usaha yang ekonomis. Oleh karena itu, kedekatan dengan infrastruktur perlu diperhatikan.

Tersedianya pembangkit tenaga listrik dan air, faktor lebar jalan, kondisi jalan, dan juga sarana dan prasarana transportasi akan menjadi nilai tambah atau nilai kurang dan harus menjadi perhatian penting dalam pemilihan lokasi usaha.

Harga tanah dan sewa bangunan di perkotaan harganya lebih mahal dibandingkan didaerah pedesaan. Oleh karena itu, ketersediaan tanah yang luas perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi usaha jika dimasa yang akan datang pemilik usaha memiliki rencana untuk melakukan ekspansi.

Layout atau penataan ruang usaha perlu dipertimbangkan oleh pemilik usaha. Hal ini selain memudahkan dalam alur pergerakan pegawai dalam bekerja juga dapat memberikan kenyamanan pada pelanggan serta memberikan ciri khas tempat usaha yang dapat membedakannya dengan para pesaingnya. Tiap-tiap jenis usaha memerlukan penataan ruang yang berbeda, namun satu hal yang sama adalah mempertimbangkan kemudahan pergerakan karyawan dan kenyamanan pelanggan.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi suatu usaha :


 

Tabel 2.1

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi

Faktor

Penelitian/Buku

Kedekatan dengan konsumen

Schmenner (1994), Chase et all (2006), Handoko (2000)

Kedekatan dengan

sekolah/universitas

O’Mara (1999)

Kedekatan dengan

perumahan/pemukiman

Schmenner (1994), Assauri (1980)

Kedekatan dengan pesaing

Schmenner (1994), Alcacer (2004), Tjiptono (2007), Handoko (2000)

Kemampuan peralatan/perlengkapan

Usaha

Schmenner (1994)

Adanya lahan parkir yang memadai

Schmenner (1994), Tjiptono (2007)

Infrastruktur yang lengkap

O’Mara (1999), Kuncoro (2003),

Assauri (1980), Chase et all (2006)

Kedekatan dengan supplier

Chase et all (2006), Handoko (2000)

Kedekatan dengan jalan

Schmenner (1994)

Faktor

Penelitian/Buku

Besarnya pajak

Chase et all (2006), Handoko (2000)

Tingkat keamanan

Handoko (2000)

Harga sewa tempat usaha

Schmenner (1994), Assauri (1980), Handoko (2000)

 

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat banyak faktor harus yang dipertimbangkan dalam memilih lokasi usaha. Tentunya pertimbangan faktor-faktor dalam pemilihan lokasi usaha tergantung dari jenis usaha yang akan didirikan.

Dalam pengukuran kesuksesan bisnis dapat berdeda antara satu usaha dengan yang lain atau anatara satu pemilik dengan pemilik usaha yang lainnya. Namun, kesuksesan suatu usaha dapat dilihat dari data subjektif ataupun objektif atas berbagai aspek, misalnya pertumbuhan penjualan, pangsa pasar yang dimiliki, dan tingkat keuntungan yang dicapai (Dawes dalam Nurul Indarti, 2004).

Dua pengukuran yang dapat dipakai untuk mengukur kesuksesan suatu usaha yakni, kinerja financial dan non-financial. Pengukuran financial merupakan pengukuran tradisional yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja suatu usaha, biasanya berhubungan dengan tingkat profitabilitas usaha (return on investment).

Sedangkan pengukuran non-financial dapat dilihat dari kualitaa produk yang dihasilkan, tingkat persediaan, produktivitas, fleksibilitas, kecepatan pengiriman, dan pegawai. Selain pengukuran financial dan non-financial terdapat juga pengukuran subjektif dan objektif. Pengukuran subjektif dapat didefinisikan sebagai kesuksesan yang diharapkan/diterima oleh pemilik usaha, sedangkan pengukuran objektif salah satunya dapat dilihat dari persentase aktual dari pertumbuhan penjualan atau tingkat keuntungan yang dicapai.

Pengukuran kesuksesan usaha juga dapat dilihat dari kecepatan dalam mencapai BEP (break even points). Analisis BEP adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur keuntungan dan kerugian atas pemilihan lokasi suatu usaha. Sebuah perbandingan ekonomi dapat dibuat dengan cara mengidentifikasi biaya tetap dari biaya variabel serta membuat grafik biaya yang dibutuhkan atas tiaptiap lokasi yang akan dipilih.

Analisis ekonomi lain yang dapat digunakan untuk mengukur kesuksesan usaha adalah dengan analisis ROI (return on investment). Analisis ROI merupakan ukuran perbandingan antara keuntungan dengan biaya operasional. Analisis ini digunakan untuk mengetahui efisiensi penggunaan modal.

Pencapaian real profit merupakan salah satu ukuran kesuksesan usaha. Real profit adalah tunai yang tersisa setelah upah yang dikeluarkan. Kemampuan memberikan real profit adalah garis pembatas antara memiliki pekerjaan dan memiliki usaha. Pada tahap ini, bisnis tidak hanya memberikan upah atas waktu yang telah dikeluarkan, tapi juga mengembalikan semua yang telah diinvestasikan. Diluar pembayaran hutang atau pajak pendapatan. Pada level ini sebuah usaha menjadi lebih berharga daripada nilai asetnya, karena memberikan return on investment dan alur kas yang positif. Pencapaian real profit ini dapat dijadikan sebagai salah satu analisis ekonomi dalam menilai lokasi usaha yang strategis.

 

2.1.2.      Pemilihan Lokasi Usaha Jasa

Dalam membuat rencana usaha, pemilihan lokasi usaha adalah hal utama yang perlu dipertimbangkan. Lokasi  strategis menjadi salah satu faktor penting dan sangat menentukan keberhasilan suatu usaha. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi, sebagai salah satu faktor mendasar, yang sangat berpengaruh pada penghasilan dan biaya, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Lokasi usaha juga akan berhubungan dengan masalah efisiensi transportasi, sifat bahan baku atau sifat produknya, dan kemudahannya mencapai konsumen. Lokasi juga berpengaruh terhadap kenyamanan pembeli dan juga kenyamanan

 Weber (1909) menganalisis tentang lokasi kegiatan industri. Menurut teori Weber pemilihan lokasi industri didasarkan atas prinsip minimisasi biaya. Weber menyatakan bahwa lokasi setiap industri tergantung pada total biaya transportasi dan tenaga kerja di mana penjumlahan keduanya harus minimum. Tempat di mana total biaya transportasi dan tenaga kerja yang minimum adalah identik dengan tingkat keuntungan yang maksimum. Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri, yaitu biaya transportasi, upah tenaga kerja, dan kekuatan aglomerasi atau deaglomerasi. Dalam menjelaskan keterkaitan biaya transportasi dan bahan baku Weber menggunakan konsep segitiga lokasi atau locational triangle untuk memperoleh lokasi optimum. Untuk menunjukkan apakah lokasi optimum tersebut lebih dekat ke lokasi bahan baku atau pasar, Weber merumuskan indeks material (IM), sedangkan biaya tenaga kerja sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi lokasi industri dijelaskan Weber dengan menggunakan sebuah kurva tertutup (closed curve) berupa lingkaran yang dinamakan isodapan (isodapane).

Teori Lokasi dari August Losch melihat persoalan dari sisi permintaan (pasar), berbeda dengan Weber yang melihat persoalan dari sisi penawaran (produksi). Losch mengatakan bahwa lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen yang dapat digarapnya. Makin jauh dari tempat penjual, konsumen makin enggan membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada di pasar atau di dekat pasar.

Tabel 2.2

Strategi Lokasi Organisasi Jasa VS Manufaktur

LOKASI JASA/ECERAN/PROFESIONAL

LOKASI MANUFAKTUR

Fokus pada Pendapatan

Fokus pada Biaya

Volume / Pendapatan

Lokasi ; daya beli

Persaingan ; iklan/penentu harga

 

Kualitas Fisik

Parker/akses; keamanan/penerangan; penampilan/citra

 

Penentu sewa

Sewa

Manajemen yang berkualitas

Kebijakan operasional (jam kerja. Upah)

Biaya nyata

Biaya transportasi bahan mentah

Biaya pengiriman produk jadi

Biaya energi dan layanan umum; tenaga kerja; bahan mentah; pajak; dll

 

Biaya tidak nyata dan masa datang

Sikap terhadap serikat pekerja

Kualitas hidup

Pengeluaran pemerintah untuk biaya pendidikan

Kualitas pemerintah

LOKASI JASA/ECERAN/PROFESIONAL

LOKASI MANUFAKTOR

Fokus pada Pendapatan

Fokus pada Biaya

Teknik

Teknik

Model regresi untuk menetapkan kepentingan beragam faktor yang ada

Metode pemeringkatan faktor

Penghitungan lalu lintas

Analisis demografi lokasi

Analisis daya beli

Metode pusat gravitasi

Sistem informasi geografi

Metode transportasi

Metode pemeringkatan faktor

Analisis titik impas lokasi

Diagram silang

Asumsi

Asumsi

Lokasi merupakan penentu utama

pendapatan

Permasalahan hubungan yang erat

dengan pelanggan sangat penting

Biaya cenderung konstan pada daerah

tertentu; oleh karena itu, fungsi

pendapatan sangat penting

Lokasi merupakan penentu utama biaya.

Hampir semua biaya utama dapat diidentifikasi untuk setiap daerah.

Hubungan dengan pelanggan yang rendah menjadikan fokus terletak pada biaya yang dapat diidentifikasi.

Biaya tidak nyata dapat dievaluasi

Sumber : Heizer and Render, 2006

               Dari tabel diatas tampak bahwa pemilihan lokasi usaha jasa lebih memilih lokasi yang dekat dengan konsumen dengan mempertimbangkan adanya akses jalan, tempat parkir, dan lokasi usaha yang aman. Usaha jasa memilih lokasi usaha yang sestrategis mungkin karena lokasi merupakan penentu utama pendapatan. Berbeda dengan strategi lokasi usaha manufaktur dimana lokasi merupakan penentu utama biaya, karena pemilihan lokasi usaha akan mempengaruhi biaya transportasi bahan mentah dan biaya pengiriman produk jadi.

Menurut Chase dkk (2006) keputusan pemilihan lokasi usaha manufaktur dan usaha jasa dipengaruhi oleh berbagai macam kriteria pemilihan yang mendasarkan pada kepentingan kompetitif. Diantara kriteria pemilihan tersebut adalah jarak ke pelanggan, iklim bisnis, total biaya yang harus dikeluarkan, infrastruktur, kualitas tenaga kerja, suplier, lingkungan masyarakat, dan pengaruh pajak.

Schmenner (1994) mengembangkan suatu pendekatan untuk mempelajari pemilihan lokasi usaha jasa. Pendekatan tersebut terdiri atas dua tahap, pertama memilih area yang akan dijadikan tempat usaha secara umum, dan kedua memilih lokasi usaha dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut dibedakan menjadi dua yakni “Musts” dan “Wants”, dimana pemilik usahamenentukan lokasi usaha yang telah memenuhi kriteria “Musts”, kemudian mempertimbangkan kriteria “Wants” dari lokasi usaha.

 

2.1.3.      Strategi Lokasi Usaha Jasa

Menurut Fandy Tjiptono (2007) pemilihan tempat atau lokasi usaha jasa memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap beberapa faktor berikut :

1)      Akses, misalnya lokasi yang mudah dilalui atau mudah dijangkau sarana transportasi umum.

2)      Visibilitas, misalnya lokasi yang dapat dilihat dengan jelas dari tepi jalan.

3)       Lalu lintas (traffic), dimana ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu :

  • Banyaknya orang yang lalu lalang bisa memberikan besar terjadinya impulse buying.
  • Kepadatan dan kemacetan lalu lintas bisa pula menjadi hambatan, misalnya terhadap pelayanan kepolisian, pemadam kebakaran, dan ambulans.

4)      Tempat parkir yang luas dan aman.

5)      Ekspansi, yaitu tersedia tempat yang cukup luas untuk perluasan usaha

dikemudian hari.

6)       Lingkungan, yaitu daerah sekitar yang mendukung jasa yangditawarkan. Misalnya usaha fotocopy yang berdekatan dengan daerah kampus, sekolah, dan perkantoran.

7)      Persaingan, yaitu lokasi pesaing. Misalnya dalam menentukan lokasi wartel, perlu dipertimbangkan apakah dijalan atau daerah yang sama banyak pula terdapat wartel lainnya.

8)      Peratiran pemerintah, misalnya ketentuan yang melarang tempat reparasi (bengkel) kendaraan bermotor berdekatan dengan pemukiman penduduk.

Langkah pertama dalam menentukan lokasi yang baik bagi usaha jasa adalah mengidentifikasikan pasar yang paling potensial yang dapat ditemukan. Karena lokasi usaha seringkali menentukan kesuksesan suatu usaha jasa.

 

2.2         Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang bersangkutan dengan penelitian yang penulis teliti adalah sebagai berikut :

Berdasarkan penelitian Nurul Indarti, 2004 yang berjudul “ Business Location and Success:The Case of Internet Café Business in Indonesia” yang menggunakan analisis faktor dan analisis regresi untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor pemilihan lokasi usaha terhadap kesuksesan usaha, menunjukan hasil, dengan menggunakan mean rating, terdapat 5 faktor pemilihan lokasi yang menjadi pertimbangan utama yakni, ketersediaan IPS (internet service provider) yang memadai, kedekatan dengan konsumen, keamanan, ketersediaan infrasuktur yang memadai, dan lingkunga bisnis. Dari hasil analisis regresi terdapat 3 faktor yang memiliki pengaruh paling besar yakni, ketersediaan infrastruktur, kedekatan dengan sekolah/universitas, dan keamanan. Dengan nilai adjusted  23%.

 

2.3         Kerangka Pemikiran

Kesuksesan suatu usaha sangat dipengaruhi oleh lokasinya.usaha jasa merupakan usaha yang berfokus pada pendapatan, oleh karenanya lokasi usaha jasa sebisa mungkin dekat kepada konsumennya. Dalam memilih lokasi usahanya, pemilik usaha harus mempertimbangkan faktor-faktor pemilihan lokasi karena lokasi usaha akan berdampak pada kesuksesan usaha itu sendiri.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi usaha, diantara faktor-faktor tersebut adalah kedekatan dengan infrastruktur, lingkungan bisnis, dan biaya lokasi.Infrastruktur yang lengkap dan memadai dapat menunjang keberlangsungan kegiatan bisnis.

Ketersediaan listrik dan air merupakan hal pokok dalam menjalankan kegiatan suatu usaha, sebagai contoh apabila listrik di area Ciputat padam, maka otomatis kegiatan bisnis usaha fotocopy yang berada disekitar kampus UIN Ciputat akan terhenti.

Lingkungan bisnis yang kondusif bagi jalannya kegiatan usaha perlu dipertimbangkan oleh pemilik usaha dalam memilih lokasi usahanya. Lingkungan bisnis yang kondusif dapat memperlancar kegiatan bisnis. Usaha jasa yang berfokus pada pendapatan sebisa mungkin memilih lokasi usaha yang dekat dengan konsumen. Dengan mendekat pada konsumennya, usaha jasa dapat memiliki competitive positioning dan memberikan pelayanan yang cepat kepada konsumennya.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh lokasi usaha yang strategis juga harus menjadi pertimbangan pemilik dalam memilih lokasi usahanya, karena akan berpengaruh terhadap investasi awal usaha. Apabila investasi awal usaha terlalu besar dan tidak diperhitungkan secara cermat maka dapat menghambat pencapaian sukses usaha.

Dari faktor-faktor pemilihan lokasi di atas maka peneliti mencoba untuk meneliti hubungan pemilihan lokasi yang dekat dengan infrastruktur, lingkungan bisnis, dan biaya lokasi terhadap kesuksesan usaha. Secara sistematis, konsep pemikiran diatas dapat dilihat dari gambar 2.2 sebagai berikut :

Gambar 2.2

Kerangka Pemikiran Teoritis

 

 

 

                                                                                      H1

 

 

                                                                                H2

 

 

                                                                                       H3

Hubungan antara variable dependen dengan variable independen

 

Biaya Lokasi

Kesuksesan Usaha

Lingkungan Bisnis

Kedekatan dengan Infrastruktur

 

 

 

 

 

 

 

 

2.4         Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang dibahas, yang kebenarannya masih harus diuji. Hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpula-kesimpulan teoritis yang diperoleh dari penelaah kepustakaan. Dengan mendasarkan pada indentifikasi masalah serta kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:

  1. a.  Ho : β1 = 0,tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara

biaya lokasi terhadap kesuksesan usaha pada usaha mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  1. Ha : β1≠ 0,terdapat pengaruh yang signifikan antara

biaya lokasi terhadap kesuksesan usaha pada usaha mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

  1. a.  Ho : β2 = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara

lingkungan bisnis terhadap kesuksesan usaha pada usaha mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta iklan

 

.

b.Ha : β2 ≠ 0,terdapat pengaruh yang signifikan antara lingkungan bisnis terhadap kesuksesan usaha pada usaha mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta iklan

3. a.  Ho : β3 = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kedekatan infrastruktur terhadap kesuksesan usaha pada usaha mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta iklan

 

b.    Ha : β3 ≠ 0, terdapat pengaruh yang signifikan antara kedekatan infrastruktur terhadap kesuksesan usaha pada usaha mikro-kecil disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta iklan

 

 

 


 

BAB III

METODE PENELITIAN

1.1.        Lokasi Penelitian

Dalam Undang-Undang No.9/1995 tentang Usaha Kecil, usaha kecil adalah usaha yang memiliki asset lebih kecil dari Rp 200 juta diluar tanah dan bangunan dengan omzet tahunan lebih kecil dari Rp. 1 miliyar. Dimiliki oleh orang Indonesia independent dan tidak terafiliasi dengan usaha menengah-besar boleh berbadan hukum boleh tidak. Sedangkan menurut BPS usaha mikro adalah usaha yang pekerjanya lebih kecil dari pada 4 orang, termasuk tenaga kerja yang tidak dibayar, dan usaha kecil adalah usaha yang pekerjanya sebanyak 5-19 orang.

Berdasarkan definisi jasa dan usaha mikro-kecil yang telah disebutkan diatas maka usaha jasa mikro-kecil yang termasuk dalam penelitian adalah warnet, fotocopy, counter, laundry, salon, dan percetakan yang berada di sekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun yang dimaksud dengan “sekitar” kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah usaha-usaha jasa mikro-kecil yang berada di sepanjang Jalan Pesanggrahan, Jalan Kampung Utan, dan Jalan Juanda, serta usaha jasa mikro kecil lainnya yang berdekatan dengan jalan-jalan tersebut.

1.2.        Variabel Penelitian

Variable bebas dalam penelitian ini terdiri dari tiga variable, yaitu:

X1 = Biaya Lokasi

X2 = Lingkungan Bisnis

X3 = Kedekatan dengan infrastruktur

Sedangkan variable tidak bebas atau terikat adalan kesuksesan usaha (business success), sebagai variabel yang dipengaruhi.

1.3.        Populasi dan Sampel

1.3.1.      Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyo,2004). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh usaha jasa bersekala mikro-kecil yang berada disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjumlah 132 buah. Berikut adalah berbagai macam jenis usaha jasa mikro-kecil yang berada disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Table 3.1

Jenis Usaha Jasa yang Berada disekitar Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jenis

Jumlah

Warnet

36

Fotocopy

45

Counter

11

Laundry

9

Salon

27

Percetakan

4

Total

132

 

1.3.2.      Sampel

   Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi (jumlahnya lebih sedikit daripada populasinya). Penggunaan sampel dalam penelitian ini dikarenakan tidak mungkin peneliti meneliti seluruh anggota populasi. Oleh karena itu, peneliti membentuk sebuah perwakilan populasi yang disebut sampel yang nantinya dapat ditarik kesimpualan yang dapat digeneralisasi untuk seluruh populasi.

Menurut Ferdinas, penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu adalah sebanyak 25 kali variable independen. Maka jumlah sampel minimal yang harus diambi; pada penelitian ini yang memiliki 3 variabel independen adalah sebanyak 75 sampel responden.

Sampel penelitian ini berasal dari berbagai jenis usaha jasa yang berada di sekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, oleh karena itu agar pengambilan sampel dari tiap-tiap usaha itu merata maka dalam pengambilan sampel dari tiap-tiap jenis usaha tersebut menggunakan proporsi sebesar 60%. Berikut ini adalah table yang menunjukan pengambilan sampel dari tiap-tiap jenis usaha jasa yang berada di sekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

TABEL 3.2

Sampel Yang Diambil Dari Tiap-tiap Usaha Jasa

Jenis

Jumlah

Sampel Yang diambil

Warnet

36

22

Fotocopy

45

27

Counter

11

7

Laundry

9

5

Salon

27

16

Percetakan

4

2

Total

132

79 dibulatkan 80

 

               Berdasarkan table diatas pengambilan sampel penelitian dengan menggunakan proporsi sebesar 60% dari tiap-tiap jenis usaha jasa diperoleh sampel penelitian sebesar 79 sampel dan dibulatkan menjadi 80 sampel.

               Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Untuk menentukan sampel yang aka digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampelnya menggunaka proposional sampling. Yaitu pengambilan sampel usaha jasa bersekala mikro-kecil yang berada disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menggunakan proporsi sebesar 60% dari tiap-tiap usaha jasa yang berada disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.4.        Jenis dan Sumber Data

Data dalam penelitian ini diperoleh dari lapangan langsung, baik dalam bentuk observasi maupun wawancara kepada responden. Dalam penelitian ini data tersebut. diperoleh dari kuesioner yang diberikan kepada responden (pemilik usaha jasa di sekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

1.5.        Metode Pangumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan (Moh. Nazir, 1988 : 211). Dalam penelitian ini metode pengumpulan data adalah dengan cara pengamatan langsung, melakukan wawancara, dan juga menggunakan daftar pertanyaan yang sering disebutkan secara umum dengan nama kuestioner.

Pengamatan data dengan observasi langsung atau dengan pengamatan langsung dilakukan dengan cara melihat langsung dan mengamati lokasi usaha jasa yang berada di lapangan, apakah disekitar lokasi usaha tersebut dekat dengan infrastruktur, lingkungan masyarakat, target pasarnya, dan juga pesaingnya. Kegiatan wawancara dilakukan oleh peneliti dengan pemilik usaha-usaha jasa yang berada disekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mengetahui pertimbangan-pertimbangan (preferensi) pemilik usaha. Metode ini digunakan sebagai pendukung/pelengkap metode kuesioner untuk mendapatkan jawaban tentang hal-hal yang belum jelas kaitannya dengan penelitian ini.

1.6.        Uji Validitas dan Reliabilitas

Pada penelitian dengan menggunakan instrumen kuesioner, maka harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji reliabilitas menunjukkan bahwa kuesioner tersebut konsisten apabila digunakan untuk mengukur gejala yang sama.

Tujuan pengujian validitas dan reliabilitas kuesioner adalah untuk meyakinkan bahwa kuesioner yang disusun akan benar-benar baik dalam mengukur gejala dan menghasilkan data yang valid (Purbayu dan Ashari, 2005 : 247). Terdapat dua cara pengukuran reliabilitas :

  1. Repeated Measure atau pengukuran berulang. Di sini pengukuran dilakukan berulang-ulang pada waktu yang berbeda, dengan kuesioner atau pertanyaan yang sama. Hasil pengukuran dilihat apakah konsisten dengan pengukuran sebelumnya.
  2. One Shot. Pada teknik ini pengukuran dilakukan hanya pada satu waktu, kemudian dilakukan perbandingan dengan pertanyaan yang lain atau dengan pengukuran korelasi antar jawaban.

Pada penelitian ini pengujian reliabilitas adalah dengan menggunakan pengukuran One Shot dengan metode Cronbach Alpha, di mana suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,60 (Nunnally dalam Imam Ghozali, 2005 : 46).

1.7.            Metode Analisis

1.7.1.      Analisis Regresi Berganda

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi terhadap kesuksesan usaha jasa adalah menggunakan Analisis Regresi Berganda. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu kesuksesan usaha (Y), bentuk matematisnya adalah sebagai berikut :

Y = a +b1X1+b2X2+b3X3+e

 

 

Dimana :

Y  = Kesuksesan usaha

a   = Konstanta

b1 = koefisien regresi dari variabel X1, biaya lokasi

b2 = koefisien regresi dari variabel X2, lingkungan bisnis

b3 = koefisien regresi dari variabel X3, kedekatan dengan infrastruktur

X  = Biaya Lokasi

X2= Lingkungan bisnis

X3= Kedekatan dengan infrastruktur

e  = variabel penggangu

1.8.        Uji Asumsi Klasik

1.8.1.      Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.

Untuk mengetahui bentuk distribusi data dapat menggunakan grafik distribusi dan analisis statistik. Data yang terdistribusi secara normal dapat dilihat melalui grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal, dapat juga dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Sedangkan analisis statistik menggunakan analisis keruncingan dan kemencengan kurva dengan indikator keruncingan (kurtosis) dan kemencengan (skewness).

Pada penelitian ini untuk melihat apakah data terdistribusi secara normal atau tidak akan menggunakan normal probability plot. Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal, jika demikian maka data tersebut memenuhi asumsi normalitas (Imam Ghozali, 2005 :149).


 

1.8.2.      Uji Multikolinearitas

Asumsi multikolinearitas menyatakan bahwa variabel independencharus terbebas dari gejala multikolinearitas. Gejala multikolinearitas adalah gajala korelasi antar variabel independen. Gejala ini ditunjukkan denganckorelasi yang signifikan antar variabel independen. Uji ini merupakan bentuk pengujian untuk asumsi dalam analisis regresi berganda. Dalam penelitian ini,untuk melihat ada tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan lawannya variance inflation factor (VIF). Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (VIF = 1/tolerance). Nilai tolerance yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai Tolerance ≤ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≥ 10 (Imam Ghozali, 2005 : 96).

1.8.3.      Uji Heterokedastisitas

Asumsi heterokedastisitas adalah asumsi dalam regresi di mana varians dari residual tidak sama untuk satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam regresi, salah satu asumsi yang harus dipenuhi adalah bahwa varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tidak memiliki pola tertentu. Pola yang tidak sama ini ditunjukkan dengan nilai yang tidak sama antar satu varians dari residual. Gejala varians yang tidak sama ini disebut dengan gejala heterokedastisitas, sedangkan adanya gejala varians residual yang sama dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain disebut dengan homokedastisitas.

Dalam penelitian ini, untuk melihat ada tidaknya heterokedastisitas adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka mengindikasikan telah terjadi homokedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka terhadi heterokedastisitas (Imam Ghozali, 2005 : 126).

1.9.        Uji Goodness of Fit

Ketepatan fungsi regresi dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari Goodness of Fit-nya. Secara statistik, setidaknya ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F, dan nilai statistik t. Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daaerah kritis (daerah dimana H0 ditolak). Sebaliknya disebut tidak signifikan bila uji statistiknya berada dalam daerah dimana H0 diterima.

1.9.1.      Uji t

Pengujian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah.

1. Membuat hipotesis untuk kasus pengujian t-test di atas, yaitu:

• Ho : bi = 0, artinya tidak ada pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y.

• Ho : bi ≠ 0, artinya ada pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y.

2. Menentukan t tabel dan t hitung.

3. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikansi sebesar 5%

maka jika t hitung lebih kecil dari 0,05 mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat.

1.9.2.      Uji F

Digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variable terikat, yaitu apakah variabel X1, X2, X3 secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel Y. Kriteria untuk menguji hipotesis adalah :

1. Membuat hipotesis untuk kasus pengujian F-test diatas, yaitu:

• Ho : bi = 0, artinya tidak ada pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y.

• Ho : bi ≠ 0, artinya ada pengaruh X1, X2, X3 terhadap Y.

 

2. Menentukan F tabel dan F hitung.

3. Dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% atau taraf signifikansi

sebesar 5%, maka :

• Jika F hitung > F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

• Jika F hitung < F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.


 

1.9.3.      Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi adalah suatu nilai yang menggambarkan seberapa besar perubahan atau variasi dari variabel dependen bisa dijelaskan oleh perubahan atau variasi dari variabel independen. Semakin tinggi nilai koefisien determinasi akan semakin baik kemampuan variabel independen dalam menjelaskan perilaku variable dependen.

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hani Handoko. 2000. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta : BPFE.

Heizer, Jay dan Barry Render. 2006. Manajemen Produksi. Jakarta : Salemba Empat.

Imam Ghozali. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.

Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Mohamad Nazir. 1983. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Nurul Indarti. 2004. Business Location and Success:The Case of Internet Café

Business in Indonesia.

Schmenner, Roger W. 1994. Service Firm Location Decisions:Some Midwestern

Evidence. International Journal of Service Industry Management, Vol. 5 No. 3,

1994, pp. 35-56. c MCB University Press, 0956-4233

Sugiono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV ALFABETA.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s